Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat )

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 50

Bab 50 Suasana berubah menjadi sedih. Saat ini Olga mengumpat, “Kenapa bukan Agatha aja yang mati?” “Namanya juga nasib. Sepertinya anakku terlalu merindukanku. Jangan sedih ya, kalaupun aku pergi duluan, jalani saja hidupmu dengan baik.” Untuk memecah suasana sedih saat ini, Selena bercanda, “Ketika aku pergi nanti, jangan lupa bakar lebih banyak uang kertas untukku […]

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 50 Read More »

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 49

Hari–hari setelah perceraian tidak sesedih yang dibayangkan Selena. Olga menemaninya beristirahat di rumah selama beberapa hari, menyiapkan berbagai makanan untuk memenuhi nutrisi tubuhnya Wajah Selena yang lebih berisi menunjukkan tubuhnya sudah mulai pulih.  Efek dari kemoterapi semakin sedikit. Meskipun tidak bisa kembali ke kondisi awal, tapi setidaknya Selena tidak mudah pingsan.  Luka di lengan Selena juga sudah mulai menutup dan membekas. Rambutnya juga sudah tidak terlalu rontok, semuanya tampak berjalan ke arah yang lebih baik.  Dalam hati Olga dia juga merasa sangat senang. Olga sudah beberapa hari tidur dengan Selena, dia sudah tidak lagi meringkuk di tempat tidur bayi. Olga percaya Selena bisa bangkit lagi.  Melihat Selena perlahan pulih, Olga menyarankan, “Ketua kelas mengadakan reuni nih. Kita ‘kan tidak melakukan apa–apa, bagaimana kalau kita ikut reuni saja?”  Aku  Selena awalnya ingin menolak, tapi Olga langsung memotong.  “Sebagian besar teman sekelas kita punya karier yang bagus. Apa kamu ga ingin mencari dokter yang lebih baik? Mungkin teman sekelas kita punya koneksi di bidang tersebut?”  “Lagipula kamu selalu bilang waktumu tidak banyak lagi, jadi seharusnya kamu menghabiskan waktumu di luar, bukannya di rumah saja.”  Melihat ekspresi canggung Selena, Olga segera mengerti apa yang dia pikirkan. Di masa lalu, Selena bukan hanya berasal dari keluarga kaya, tapi juga murid yang disukai oleh para guru dan  memiliki masa depan cerah.  Dibandingkan dengan teman sekelasnya, Selena benar–benar tidak berdaya sekarang. Keluarga Bennett sudah bangkrut, dia juga belum sempat menyelesaikan studinya.  “Kamu malu, ya? Aku saja tidak malu berhenti kuliah kedokteran dan jadi sales, jadi apa yang kamu takutkan? Setidaknya kamu masih kaya raya. Ah, aku lupa, pria brengsek itu juga memberimu saham perusahaan ‘kan?”  Ada banyak klausul dalam perjanjian perceraian. Dari segi keuangan, Harvey dianggap cukup dermawan Meskipun tidak sampai setengah dari kekayaan Harvey, tapi yang diberikan Harvey tidak akan bisa dihabiskan Selena. Setiap tahun dividen saham Grup Irwin mencapai triliunan.  Belum lagi real estat lainnya. Entah apakah untuk menebus kesalahan atau untuk sepenuhnya berpisah dari Selena, setidaknya dalam hal ini, Harvey bukanlah bajingan.  Selena benar–benar tidak tahan dengan permintaan Olga, jadi dia menyetujuinya.  Melihat berita tentang pertunangan CEO Perusahaan Irwin berseliweran di Internet membuat  Selena merasa perkataan Olga tidak ada salahnya. Tidak peduli berapa lama lagi waktu yang tersisa, Selena tidak bisa diam saja di rumah.  “Oke.”  “Nah, begitu dong! Dulu banyak mahasiswa yang menyukaimu. Siapa tahu ada laki-laki yang masih menyimpan rasa padamu, kamu harus mengambil kesempatan itu, jangan buang waktu selagi masih muda.” Selena tiba–tiba teringat seseorang, lalu bertanya, “Apakah Felix datang ke acara reuni?” “Tentu saja. Tapi Felix… walaupun dia baik, tapi penampilannya berantakan. Kamu tidak  masalah?” Selena menggelengkan kepalanya. “Bukan begitu, aku dengar–dengar dia mewarisi kekayaan  ayahnya setelah lulus dan sangat berhasil di bidang pemakaman. Karena kita teman sekelas,  seharusnya tidak masalah kalau memintanya untuk mencarikan tempat, ‘kan?” Selena berbicara dengan sangat tenang, tapi maknanya sangat berbeda di telinga Olga. Dia merasa kesal dan berkata, “Cuih, jangan ucapkan kata–kata sial seperti itu.  Selena memegang tangan Olga dengan lembut dan menjelaskan, “Olga, kenyataannya memang seperti ini. Kamu harus berusaha menerima bahwa suatu saat manusia pasti akan meninggal.“

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 49 Read More »

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 48

Bab 48 Namun Harvey hanya bisa berkata, “Ayo jalan.”  Keduanya diam–diam saling mengerti, jadi tidak ada yang membahas masa lalu. Semua berkas  sudah disiapkan, mereka akan segera melakukan sidang perceraian.  Dari awal sampai saat ini, Selena tidak mengatakan sepatah kata pun kepada Harvey. Setelah Selena mengambil surat cerai, dia langsung berbalik dan pergi tanpa ragu. Akhirnya Harvey tidak bisa menahan diri dan bertanya, “Apa rencanamu ke depannya?”  Tetapi Selena tidak berbalik, dia hanya menjawab, “Bukan urusanmu, Tuan Harvey.” Melihat salju jatuh di bahunya, Harvey ingin membersihkan, tapi uluran tangannya tiba–tiba  terhenti.  ‘Apakah aku masih layak menyentuh Selena?‘ tanya Harvey dalam hati.  Harvey melepaskan Selena, semua untuk menuntaskan masalah ini.  Ketika melihat cuaca yang sangat cerah, Harvey teringat hari di mana mereka menerima akta nikah. Saat itu cuaca juga sama cerahnya dengan hari ini, Selena menggunakan gaun putih, dengan senyum yang sama menawannya.  “Semoga kita tidak perlu lagi datang ke tempat ini.”  “Tidak akan pernah.”  “Bagaimana kalau kamu mengkhianatiku?”  “Kalau begitu, bunuh saja aku. Orang yang sudah mati tidak mungkin bisa berkhianat.” Ekspresi  serius Harvey saat itu sangat membuat Selena terkejut.  Tidak disangka, kata–kata itu baru tiga tahun lalu diucapkan Harvey.  Selena tahu saat ini Harvey sedang menatap dirinya, tapi dia tidak berbalik, hanya terus berjalan ke depan.  Selena terus menerus berkata pada dirinya sendiri, jangan sampai perpisahan ini menjadi begitu menyedihkan.  Akan tetapi, ketika teringat bahwa setelah hari ini dirinya tidak akan memiliki hubungan apa- apa lagi dengan Harvey, ada rasa pahit yang tidak bisa dijelaskan di hatinya.  Baru saja jalan beberapa langkah, Selena mendengar Agatha berkata, “Harvey, selamat ya, akhirnya keinginanmu tercapai.”  Keinginannya tercapai?  +15 BONUS  Selena mencibir dirinya sendiri. Benar, kalau Selena tidak berusaha bertahan, mungkin mereka sudah bercerai pada hari ketujuh anaknya meninggal.  Harvey tidak menjawab, tapi Agatha terus berbicara, “Berkasku sudah siap semua, Ayo urus akta  nikah kita.” Selena tidak mendengar jawaban Harvey. Mendengar perkataan Agatha saja sudah membuat  hatinya seperti dicabik, terasa menyesakkan.  Olga memapah tubuh Selena yang gemetar sambil bertanya dengan lembut, “Apakah kamu baik- baik saja?” “Aku tidak apa–apa.”  Olga melirik Harvey dan Agatha di kejauhan. Agatha hanya memedulikan dirinya sendiri, sedangkan Harvey

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 48 Read More »

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 47

Bab 47 Karena Olga adalah seorang mahasiswi kedokteran, otomatis dia sangat mengerti efek samping dari kemoterapi. Dia juga mengerti keputusan yang diambil Selena. Kebanyakan orang meninggal akibat efek samping kemoterapi yang sangat menyiksa, bukan karena kanker itu sendiri.  Olga tidak mau bersikap egois, membiarkan Selena mengangkat beban itu sendiri. Mungkin saja keputusannya hanya akan membuat Selena pergi lebih cepat.  Saat ini Olga memeluk Selena dari belakang sambil menangis tanpa suara.  “Baiklah, aku akan menemanimu.”  Air matanya membasahi baju tidur Selena sedikit demi sedikit. Dia berkata, “Kamu pasti  kesakitan, ya? Maaf, ternyata aku sama sekali tidak tahu apa–apa.”  “Aku sudah jauh lebih baik. Olga, terima kasih ya. Aku gak mau pergi sendiri. Awalnya aku ingin Harvey menemaniku, tapi karena semua jadi seperti ini, kita mungkin tidak akan bisa menjalin  hubungan lagi.”  Ketika menyinggung nama Harvey, emosi Olga langsung meledak. “Selena, kamu bilang kuburan adiknya Harvey dirusak, lalu ada orang yang mengambil fotomu saat kamu sedang memegang  palu. Menurutmu, apakah ada orang yang sengaja melakukan hal ini padamu?”  “Tidak ada orang lain selain Agatha.” Selena yakin akan hal ini. Karena baru sebulan setelah Harvey setuju untuk menemani dirinya, masalah ini terjadi. Jadi semua pasti berkaitan dengan  Agatha.  “Kalau kamu tahu dia yang melakukannya, kenapa kamu diam saja?”  “Dari tahun lalu sampai sekarang, Agatha menggunakan berbagai cara agar aku dan Harvey bercerai. Sejujurnya, cara yang dia gunakan tidak cukup cerdas. Harvey bukannya tidak mengerti trik Agatha, tapi dia selalu berdiri di sisi Agatha. Awalnya aku pasti berdebat dengannya, tapi aku akhirnya menyadari bahwa benar dan salah bukan hal yang paling penting, tapi yang penting  adalah keberpihakannya.”  Melihat Selena yang begitu tertekan, Olga terus menyemangatinya, “Tapi kali ini berbeda. Sekalipun kamu ingin bercerai, tapi kalau memang Agatha yang menyentuh kuburan Lanny,  kamu tidak bisa membiarkannya begitu saja.”  “Olga, masalahku dengan Harvey bukanlah Agatha, melaikan kematian adiknya. Kemarahan Harvey tidak akan bisa diselesaikan kecuali adiknya hidup kembali. Sekalipun bisa diselesaikan, kami tetap tidak bisa bersama.” “Aku mengerti maksudmu, tapi kamu jangan sampai berpikir bahwa ini semua salah Keluarga Bennet dan membiarkan Harvey menyakitimu sesuka hati. Kematian adiknya bukanlah alasan  +15 BONUS  untuk Harvey berselingkuh, karena bagaimanapun juga, pengkhianatan adalah tanda  ketidaksetiaan! Dia tetap salah karena merelakan dirimu dan anak di dalam perutmu untuk  menyelamatkan Agatha! Aku akui Harvey memang memperlakukanmu dengan baik sebelumnya, tapi kamu tidak bisa selamanya tinggal di masa lalu.”  Olga dengan sabar menasehati, “Selena, manusia hanya hidup sekali. Kalaupun kematian adiknya ada hubungannya

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 47 Read More »

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 46

Bab 46 Olga bergumam pelan, “Kamu tahu, aku ini begitu payah. Masih muda begini tapi sudah punya masalah pendengaran, hahaha. Aku barusan dengar, kamu bilang menderita kanker perut? Sepertinya, telingaku ini pasti bermasalah…” # Selena menahan tangan Olga dengan lembut dan berkata, “Olga, kamu harus bisa menghadapi kenyataan.” Olga terdiam dan mengangkat matanya yang buram.

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 46 Read More »

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 45

Bab 45 Selena dapat memastikan bahwa Harvey sangat terguncang setelah kematian adik perempuannya. Dua tahun ini telah membuatnya kehilangan kesadaran psikologisnya. Tadi, Harvey benar–benar berpikiran untuk membunuhnya dan kemudian mati bersamanya, demi menemani adik perempuannya! Olga masih belum datang. Tampak cahaya lain menerangi pemandangan di kejauhan dan mobil berhenti tidak jauh darinya. Dengan kecerdasan Harvey,

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 45 Read More »

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 44

Bab 44 “Selena, saat kamu hidup layaknya seorang putri, tahukah kamu betapa menyedihkannya Lanny? Aku pribadi pernah ke desa pegunungan tempat dia dulu tinggal, sunyi dan tandus, kebanyakan orang belum tentu bisa makan selama tiga hari. Aku dengar dia awalnya dibeli untuk dinikahkan dengan seseorang. Sejak kecil dia tumbuh seperti anjing yang terkunci di gudang

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 44 Read More »

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 43

Bab 43 ア  Harvey tidak mengatakan apa–apa dan hanya berdiri di sana dengan wajah kesal, sambil membawa suasana tegang ke arah Selena.  Pita suara di tenggorokannya kembali bergerak. “Kuharap ini juga nggak ada hubungannya  denganmu. Hari pada saat kamu pergi dan tinggal di pemakaman selama tiga jam, ceritakan padaku apa yang kamu lakukan?” Selena hanya merasa itu sangatlah konyol. “Aku bilang, aku mengunjungi Nenek. Nggak ada lagi yang aku ajak bicara, memangnya salah kalau aku lebih banyak bicara dengan Nenek? Lagi pula,  ini adalah batu nisan, bukan roti kukus yang bisa pecah begitu saja kalau aku memecahkannya!  Meski kau mau menuduhku, tolong berikan buktinya.”  “Perhatikanlah baik–baik, apa ini?!” Harvey mengeluarkan beberapa foto lagi, tampak Selena memegang palu di tangannya, bahkan  Selena sendiri membeku sejenak.  “Ada seorang pria tua sedang memperbaiki makam yang menjatuhkan peralatannya. Aku melihat  dia sungguh kasihan, jadi aku mengambilkannya untuknya.”  Selena juga tidak tahu bagaimana seseorang bisa mengambil foto seperti itu, dia sendiri buru- buru menjelaskan, “Aku cuma mengucapkan beberapa patah kata di depan makam Lanny, lalu  aku pergi dengan baik–baik. Harvey, kamu harusnya percaya padaku. Lagipula, buat apa aku  berbuat begitu? Apa untungnya bagiku?” Melihat penampilannya yang bingung dan berdalih, Harvey merasa begitu menggelikan. Jari- jarinya yang panjang dan ramping mengangkat dagunya, lalu ujung jarinya menekan bibirnya. Kenapa mulut secantik ini nggak mengatakan satu kata pun yang benar? Chandra juga sudah mengakui kalau dialah yang memberitahumu tentang kuburan Lanny. Kamu bahkan melakukan upaya khusus dengan menyewa detektif swasta.”  Dia tahu bahwa tidak ada yang bisa disembunyikan dari mata Harvey, jadi dia langsung mengakui, “Ya, aku memang menyewa seorang detektif untuk menyelidiki masalah ini, tapi aku melakukannya demi mencari tahu kenapa kamu tiba–tiba menjadi seperti ini? Meski aku tahu kalau Kezia adalah Lanny, aku cuma akan meletakkan buket bunga di depan kuburannya dan kemudian pergi ke kuburan nenekku, belum lagi fakta bahwa aku… aku sedang sakit, aku nggak  punya kekuatan untuk bisa mengacaukan batu nisan hingga jadi seperti ini!” 

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 43 Read More »

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 42

Bab 42 Selena bertanya tentang situasi baru–baru ini dari beberapa orang lagi dan tidak berbeda dengan informasi dari Harvey. Dia awalnya ingin menebus gadis–gadis itu, tetapi hasilnya adalah mereka telah pindah atau ke ke kampung halaman. Sekarang, dia tidak dapat menemukan siapa pun. Selena hanya bisa berhenti untuk sementara waktu. Dia berniat untuk pergi ke

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 42 Read More »

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 41

Bab 41 Selena meletakkan keranjang bunga dan menjelaskan, “Aku temannya, aku cuma mau menjenguknya, setelah itu pergi.”  “Sungguh nggak perlu, orang asing cuma akan merangsang kondisinya. Nona Selena, mari.” Jane mendorong bantal itu ke pelukan Selena dengan kesedihan dan kemarahan. “Kamu bawalah anakku, cepat pergi. Pastikan kamu membesarkannya, aku akan menahan orang–orang ini untukmu. Cepat larilah!”  Dengan itu, dia mengambil keranjang buah yang diantar Selena dan menghantamkannya dengan keras ke tubuh dokter yang merawatnya. “Aku akan membunuh iblis sepertimu! Kamulah yang ingin mengambil anakku, aku akan membunuhmu!”  Petugas keamanan dengan helm dan perisai pelindung bergegas keluar dari pintu dan  menjatuhkannya dengan tongkat listrik, diikuti oleh empat orang yang melemparkannya ke tempat tidur dan dengan cepat mengikatnya.  Jane masih berteriak, “Kembalikan bayiku!”  Saat obat penenang mulai bekerja, dia perlahan–lahan perlawanannya menurun, tidak lama kemudian dia tertidur. Selena merasa terkejut saat menyaksikan semua ini, sebab lebih seperti penjara ketimbang rumah sakit. Mereka bukanlah dokter, melainkan sipir!  Jane yang telah tertidur tampak tidak berbahaya. Kemudian, dia dipersilakan keluar dari bangsal. Pertanyaan yang ingin dia tanyakan tidak keluar sepatah kata pun.  Selena menoleh ke belakang saat dirinya pergi, kebetulan melihat bahwa dr. Moses sedang memaki habis–habisan para perawat. Sepertinya memarahi mereka karena membiarkannya  masuk ke dalam.  Saat dia berhenti terdiam cukup lama, dr. Moses segera menatapnya. Kedua mata mereka saling bertemu, segera dr. Moses memalingkan muka dan menghentikan omelannya.  Selena merasa ada yang tidak beres, terutama karena dr. Moses ini jelas–jelas belum pernah bertemu dengannya, dia merasa orang ini sepertinya mengenalinya.  dari  Menurut Harvey, Jane mengalami masalah setelah ujian masuk universitas. Dia  diting masi  ditinggalkan oleh Arya  dan gangguan mental setelah aborsi, kemudian dikirim ke  rumah sakit untuk

Antara Dendam dan Penyesalan ( Jus Alpukat ) Bab 41 Read More »